Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 31 Mei 2012

Waktu

Kata peribahasa waktu itu uang. Kalau orang Arab mengatakan waktu itu seperti pedang, kalau kita gak bisa manfaatin, so waktu akan memenggal kita, memotong kepala kita. Hoo...







Berbicara tentang waktu, tentu bukanlah suatu hal yang baru. Perbincangan tentang topik ini sudah ada sejak zaman Socrates. Artinya sudah lebih tua dari usia kita atau mungkin hampir sama tua dengan waktu itu sendiri.



Nah, salah satu yang memperbincangkan waktu adalah film "in time". Di film itu, waktu adalah segalanya. Di film itu peribahasa waktu adalah uang tidak berguna, karena waktu lebih dari pada uang. Semua orang dalam film itu tergantung dengan waktu. Setiap dari mereka memiliki tanda di tangannya berupa jam digital yang memberitahu mereka masa hidup mereka.


Seorang jagoan, diperankan oleh Justin Timberlake, bermaksud menyelematkan seorang dengan jatah waktu mencapai ratusan abad dari kejaran bandit waktu. Akan tetapi, usahanya tersebut malah menyeretnya dalam konflik yang seru.


Aku melihat film ini lebih dari sekedar sebuah film aktion yang penuh intrik kejar kejaran dan beberapa kali tembakan. Bagiku ini film yang penuh makna, tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu kita dengan baik. Tentang bagaimana kekuasaan itu bukanlah tentang penguasaan uang, tetapi lebih luas lagi penguasaan kebutuhan manusia. Tentang hirarki dalam kehidupan ini yang nyata tetapi kadang disamarkan.




Film itu seakan menyeret kita, kalau merasa terseret sich, ke dalam kehidupan nyata kita. Kita hidup tentu punya batasan waktu. Bedanya dalam film, batas waktu itu telah kita tahu, tetapi dalam kenyataan batas waktu hidup kita adalah sebuah misteri yang tak bisa terkuak. Jadi dalam kehidupan kita harus memperhitungkan apa yang mau kita lakukan, mudahnya apa sich tujuan hidup kita ini? Lagi-lagi pertanyaan filosofis purba.




Ada beberapa orang yang mengatakan hidup itu untuk bersenang senang, karena hidup itu hanya sekali jadi harus dini'mati. Ada pula mengatakan hidup itu mengalir saja. Kita ikuti saja suratan takdir dan perilaku alam ini. Ada juga yang berpendapat kalau hidup itu yah, untuk membantu sesama. Dan banyak lagi alasan yang menjadi tujuan hidup manusia.



Sekarang, apa tujuan hidupmu?

Rabu, 30 Mei 2012

pesan

Mungkin kau telah terlelap dalam tidurmu malam ini. Mungkin juga kamu masih berkutat dengan kamus tebalmu itu. Mencari-cari kata untuk kamu susun dalam puzzle sehingga menjadi suatu pesan yang indah.



Aku mencoba menuliskan sebuah pesan untukmu. Sebuah pesan dan juga harapan untukmu dariku.

Aku ingin jika nanti kamu telah memiliki seorang anak, usahlah ragu untuk memintaku membantumu memandikannya.



Jika kamu lelah dan tidak sempat memasakkan makanan untukku, beritahu aku, aku akan cepat pulang untuk ganti memasakkan menu andalanku, atau minimal akan ku pesankan menu kesukaanmu.



Pastinya kamu lelah bekerja seharian membersihkan rumah dan merawat anak-anak, ijinkan aku untuk merawatmu meski hanya pada sabtu dan minggu.



Jika kau terjaga di ujung malam, jangan lupa kau bangunkan diriku untuk menemanimu mengawali hari.



Ijinkanku tuk membuatmu selayak perempuan yang melahirkanku.



Kelak ketika kau membaca pesan ini, mungkin aku telah lupa atau malah sudah tiada.



Tetapi, jangan ragu bahwa di hatiku engkaulah makhlukNya yang istimewa.




*Kebingungan mengungkapkan rasa dan keinginan berbakti serta menghargai

Jumat, 25 Mei 2012

Panggil aku dengan.....????

Sejak kecil, ibu selalu memanggilku dengan panggilan "nang", entah itu dari "kenang" atau "lanang", itulah panggilan yang khusus dari orang yang paling sayang ke aku.


Ketika aku memiliki adek, tepatnya dua orang adek, ibuk, bapak, dan mbakku tetap memanggilku nang, tetapi dua adekku memanggilku dengan "Kak", bukan "kakak".

Selepas meninggalkan kota tercinta untuk merantau ke Jogja, ada panggilan baru lagi untukku. "mas" terutama itu diucapkan oleh seorang yang dahulu sempat menjadi yang special.


Panggilan baru lagi ketika aku punya keponakan dan tinggal di kos kucing garong, aku dipanggil "om". Jika oleh keponakan dipanggil "om" wajar, tetapi di kos dipanggil seperti itu awalnya aneh. Namun, pada akhirnya aku faham, ternyata bu kos juga punya anak dan keponakan yang masih kecil-kecil, ketika itu. Jadi wajar jika aku dipanggil om.


Lanjut, panggilan berikutnya adalah "abang" hehe. Sebenarnya ini adalah panggilan yang saya minta kepada seorang yang special. Meskipun tidak ada apa-apa antara kami.


Di kos kucing garong, ketika banyak teman-teman yang berpindah, panggilan pun perlahan bergeser. Tidak hanya panggilan "om" yang populer, tetapi "babah" ikut populer di kosan yang selalu ramai dengan nuansa kekeluargaan itu.



Lalu ada panggilan baru dari seorang yang semoga dipersiapkan untuk masa depan saya, "Masnya". Hehe 
Meski pun pada tahap selanjutnya saya meminta memanggil saya dengan Kak.



Hehehe...
mau panggil apa? silahkan...

Akronim

Masih ingat dengan istilah akronim? Tentunya masih ingat.
Tetapi apakah kita sadar berapa banyak akronim yang telah kita ciptakan selama ini?


Suatu hari saya diminta mengajari seorang Singapura. Saya diminta mengajar bahasa Indonesia, dan kebetulan yang harus saya sampaikan adalah mengenai akronim. Saya kemudian mencoba membrowsing kata akronim di google, dan mendapatkan web wikipedia dengan judul akronim.

Dalam wikipedia, yang lamannya saya bukan, terdapat sederet akronim yang kemudian saya copy-paste ke dalam word. Betapa banyak akronim yang saya dapatkan.

Di kelas, ketika menyampaikan beberapa akronim yang ada, si Singapura itu bertanya mengapa begitu banyak akronim di dalam bahasa Indonesia?
Saya terhenyak dengan pertanyaan itu. Apakaha di kebudayaan atau di negara lain akronim tidak begitu banyak?

Dalam bahasa Arab, memang jarang saya menemukan singakatan. Pun, kata si Singapura, tidak begitu banyak singkatan yang digunakan di negaranya.


Apakah sebenarnya yang mendasari kita, orang Indonesia sangat hoby dengan singkatan?

Saya belum menemukan jawabannya

Locus, FB, dan generasi Galau

Pagi ini tidak ada kegiatan penting yang harus saya kerjakan. Oleh karena itu, saya mencoba membolak-balik lembaran sebuah buletin yang dipublish oleh fakultas sebelah. Dalam sebuah rubrik terdapat satu tulisan ringan dan sebenarnya tidak terlalu rapi dalam penyajiannya, tetapi isi yang dinyatakan dalam tulisan itu cukup menyentuh saya. Dalam salah satu paragraf di artikel itu tertulis bagaimana generasi sekarang adalah generasi galau.


Saya kemudian mencoba berfikir tentang apa yang coba ditawarkan oleh si penulis itu. Dalam salah satu paragraf awalnya, dia juga menyebutkan bahwa menurut seorang psikolog membagi orang kedalam dua jenis, orang yang berlocus eksternal dan orang yang berlocus internal.


Orang dengan locus eksternal adalah orang yang memberi tanggapan atas sebuah fenomena yang dia hadapi dengan cara melihat bahwa penyebab fenomena (masalah) adalah dari fihak luar, bukan dari dirinya, sedangkan orang dengan locus internal akan melihat masalah dengan meninstropeksi dirinya terlebih dahulu sebelum menilai penyebab masalah yang dihadapinya itu berasal dari luar.


Dua hal yang dinyatakan dalam artikel tersebut, generasi galau dan orang berlocus eksternal, menurut saya sangat cocok dengan situasi sekarang ini.

Banyak di antara adek angkatan saya, terutama yang sekarang masih berkuliah, tampak seperti orang yang berlocus eksternal. Mereka melihat suatu masalah karena adanya ketidaksesuaian yang ditimbulkan oleh pihak-pihak di luar dirinya, sehingga ketika mereka menanggapi hal itu mereka cenderung pasif atau malah manja dengan masalah yang dihadapinya tersebut.



Manja yang saya maksud di sini adalah bahwa mereka ingin menunjukkan masalah yang dihadapinya kepada orang lain bukan dengan tujuan mendapatkan solusi atau nasehat, tetapi ingin mendapatkan perhatian. Mereka seakan ingin mendapatkan perhatian dari orang lain bahwa mereka itu sedang mendapatkan masalah. Padahal seharusnya mereka menanggapi apa yang sedang dihadapinya dengan lebih mandiri. Artinya, mereka tidak perlu terlalu frontal mengutarakan masalah yang dihadapinya kepada orang lain. Tetapi seharusnya mereka mencoba terlebih dahulu menyelesaikan masalahnya. Baru kemudian kendala yang masih tersisa dan itu tidak/belum mampu mereka selesaikan diutarakan.




Sebenarnya hal ini hanya perkiraan saya saja.

Akan tetapi, kemudian saya mencoba mendisukusikan hal ini kepada salah seorang teman baik saya yang saya tahu lebih bijak dan berpengalaman.

Menurut dia, apa yang saya pikirkan itu memang sama dengan apa yang dipikirkannya.


Saya lalu mencoba melihat fenomena Facebook atau sosial media lainnya.
Sering kali, para pengguna fb memanfaatkan fb untuk sedikit curhat atau merenungkan atas masalah yang dihadapinya. Akan tetapi, menurut saya, mereka tidak sadar bahwa kebiasaan mereka tersebut secara perlahat juga muncul dalam kehidupan nyata.


Untuk memperjelas pernyataan di atas akan saya coba pilah satu persatu. 
Banyak di antara orang-orang yang saya kenal dan memiliki fb cenderung sering curhat dari pada mereka yang tidak aktif di fb.
Memang, kata teman saya yang jebolan komunikasi, kecenderungan untuk terbuka itu semakin besar. Banyak orang yang cenderung berani membuka diri untuk mengungkapkan permasalahannya ke ranah umum. Dengan menuliskan masalah mereka ke status fb, secara tidak langsung mereka ingin orang lain untuk mengetahui apa yang sedang dia rasakan.



Kecenderungan yang terjadi ketika memasang status, ini juga terjadi pada diri saya, adalah ingin mendapatkan komentar atau sekedar mendapatkan klik "like" dari orang yang menjadi temannya di dunia maya itu. Pada tahap selanjutnya, si pemasang status akan merasa bahwa eksistensi sebagai seorang yang memiliki problem dihargai atau dipedulii -kata yang kurang tepat- oleh orang lain.



Lambat laun, ketika mereka, para pengguna fb, mendapati masalah dalam kehidupan nyata, mereka pun berharap ada orang yang simpati kepadanya ketika dia bercerita. Buruknya, ketika dia bercerita tentu yang dia ceritakan cenderung menunjukkan locus eksternal, bukan locus internal. Nah, ini kemudian menjadi masalah baru. Karena masalah yang ada tidak terselesaikan, karena sebenarnya masalah itu menjadi pimicu agar dapat menuliskan status yang dengan status berkomentar banyak memberikan sebuah kepuasan tersendiri.



Saya lalu teringat dengan China yang melarang fb hadir di negeri tirai bambu itu. Apakah memang orang China telah sadar bahwa sebenarnya ada sebuah bad habit yang disuntikkan melalui jarum suntik bernama fb?


Entahlah, apakah yang saya katakan ini benar atau tidak. Akan tetapi, ini hanyalah sekedar buah pemikiran tadi sepanjang pulang dari kampus.


Saya tidak bermaksud menjelekkan fb atau media sosial lain, atau bahkan menjelekkan generasi adek angkatan saya, tetapi alangkah baiknya jika kita semua menyadari dan lebih hati-hati.


Sekedar tulisan yang tidak perlu dicamkan terlalu dalam.

*maaf jika kurang berkenan, karena saya pun kecanduan oleh "narkotika" yang ada.

Kamis, 24 Mei 2012

Mata

Salah satu indera yang dimiliki manusia adalah mata. Melalui mata, kita mampu menyaksikan sebuah perayaan yang sangat rami, penuh dengan warna-warninya. Melalui mata, kita pun dapat mengetahui betapa merana nasib orang-orang yang kelaparan di Afrika sana, kurus, kering dan hitam. Menyedihkan.


Ada yang terlahir dengan mata yang kurang sempurna, sehingga semenjak lahir, dia harus mengenakan kaca mata, sehingga ketika dewasa tebal lensanya membuat iba. Ada yang lahir dengna biak-baik saja, tetapi karena kebiasaan buruknya, dia pun mengenakan kaca mata. Meski pun demikian, banyak juga yang sampai mati, mata mereka tetap baik-baik saja.



Ternyata, mata yang kita tidak sepenuhnya bisa jujur kepada kita. Terkadang, karena kita hanya melihat dengan mata kepala kita. Suatu objek pun menjadi salah kita nilai. Apa yang tampak indah oleh mata terkadang mensugesti perasaan kita bahwa itu adalah bagus atau sebaliknya, itu adalah jelek.


Karena kelemahan itu pula lah, terkadang kita terlena olehnya. Seperti halnya ketika kita melihat makhluk berlawanan jenis kelamin dengan kita. Mata mampu menutupi kekurangan perilaku seseorang hanya karena mata kita mengatakan bahwa orang itu cantik atau tampan. 


Mata pun sanggup menolehkan kepala, melirikkan pandangan ketika ada seorang yang cantik lewat atau tampak di depan kita. Itulah mata.


Meskipun demikian, mata adalah indera yang telah membawa kita kepada suatu keindahan, suatu keni'matan yang telah diciptakan-Nya. Mata adalah jendela hari kita. Mata adalah warna yang mempercantik hari-hari kita. 


*Sedang mensyukuri karunia-Nya, sekaligus menyadari kekurangbijaksanaan dalam memanfaatkannya.

Selasa, 22 Mei 2012

Kerendahan yang menunjukkan Kebesaran

Iseng mengisi waktu dengan membaca buku psikologi, eh ternyata saya menemukan 6 tindakan yang mudah, karena semua orang pasti bisa, tetapi memberikan efek yang luar biasa.
Enam hal itu adalah enam tindakan yang bisa dikatakan menunjukkan nilai yang rendah atau sepele. Bagi yang terlalu jaga imej, mungkin tidak akan dilakukan. Tetapi, ketahuilah bahwa itu sangat baik untuk kita dikemudian harinya. Berikut enam tindakan tersebut.

1. Berbuat sesuatu yang sepele dan rendah di mata sebagian orang. Misalnya, jika kita ini adalah seorang ketua panitia, kita mau menyapu halaman hall yang akan kita jadikan tempat perhelatan. Mungkin bagi sebagian orang, hal itu sangat tidak bagus. Karena bagi sebagian orang bukanlah tugas seorang ketua, melainkan tugas seorang tukang sapu. Namun, hal tersebut bermakna berbeda di kemudian hari. Ketua itu akan dianggap sebagai orang mau berbaur, orang yang tidak terlalu menjaga jarak, sehingga pada tahap selanjutnya dia akan lebih mudah menjalani hidup ini.

2. Tidak berbohong meskipun kepada orang yang jauh di bawah kita, baik usia, pangkat, atau kepandaiannya. Ketika kita berbohong, kepercayaan orang akan langsung hancur, kita tidak akan mendapatkan dukungan, karena kita dianggap seorang pengkhianat. Tetapi, jika kita mau berlaku jujur, tidak bohong mereka akan sangat menghargai kita. Mereka akan sadar bahwa kita pun manusia seperti mereka yang memiliki keterbatasan, sehingga dia pun tidak bisa melakukan sesuatu yang dahulunya sempat dia janjikan. 


3. Jangan sok tahu dan mengkui kesalahan. Ini bagi sebagian orang dapat dianggap menghancurkan imej diri. Citra diri akan tercoreng dan hancur, tetapi ketahuilah bahwa sikap sok tahu dan tidak mengakui kesalahan ini mungkin efektif untuk beberapa waktu saja. Karena jika kesalahan dan ke-sok tahu-an kita terus berlanjut dan itu dihafal oleh orang lain, sedikit demi sedikit kita pun akan dijauhi dan dianggap hanya seorang pembual besar.


4. Berkata "saya tidak tahu". Ini juga adalah hal yang berhubungan dengan imej diri. Ketika kita adalah seorang pengajar, kemudian kita mengatakan "saya tidak tahu" atas apa yang ditanyakan oleh anak didik kita, pastilah rasa malu yang akan terasa. Tetapi sebenarnya hal itu tidaklah mengapa, karena di satu sisi, pernyataan itu akan membuat kita teringat dan memacu kita untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Di sisi lainnya, memang kita akan dicap sebagai seorang yang tidak serba tahu, tetapi ketika pada suatu moment kita mampu menjawab semua pertanyaan, bahkan suatu pertanyaan yang dianggap si penanya susah terjawab, kita akan berbalik menjadi seorang sangat istimewa, seorang dengan kemampuan spesial dan itu akan membekas dibenak anak didik kita.

5. Memperlakukan orang dengan penuh hormat. Memberikan penghormatan kepada orang yang telah kita kenal, atau kepada orang yang sangat berjasa kepada kita, atau kepada orang yang sangat penting dalam kehidupan kita adalah hal yang sudah sewajarnya. Akan tetapi ketika kita memberikan penghormatan yang layak kepada orang yang tidak begitu dekat atau tidak akrab dengan kita, ini yang kadang jarang kita sadari. Biasanya karena tidak begitu akrab, kita akan memperlakukannya dengan standar minimal. Maksud standar minimal di sini adalah sebatas kita tidak menghina orang tersebut dan kita juga tidak merasa rendah di mata orang tersebut. Dengan memberikan penghormatan yang layak kepada orang yang tidak akrab dengan kita, kita pun menjadi terhormat di mata orang yang tidak akrab.


6. Menghargai bantuan orang lain meskipun itu sangat kecil. Misalkan kita mendapat penghargaan sebagai seorang entreneur yang handal pada tahun ini. Kemudian oleh sebuah tabloid besar di negara kita, kita diperknankan memberikan sambutan atau sedikit ucapan atas keberhasilan kita. Sebutkanlah semua pihak yang telah membantu kita meskipun dia hanya seorang pembantu yang tugasnya hanya membuatkan kopi untuk kita. Kita bisa mengatakan bahwa dengan kopi tersebut anda bisa menjadi lebih fokus dalam berfikir.



Wallahu a'lam.
Ini semua hanyalah parafrase dari saya atas bacaan saya di pagi ini, sambil menimkati segelas kopi dan menunggu rendaman baju yang siap untuk dicuci dan di jemur.
semoga ini cukup menarik. hehehe