Pagi ini tidak ada kegiatan penting yang harus saya kerjakan. Oleh karena itu, saya mencoba membolak-balik lembaran sebuah buletin yang dipublish oleh fakultas sebelah. Dalam sebuah rubrik terdapat satu tulisan ringan dan sebenarnya tidak terlalu rapi dalam penyajiannya, tetapi isi yang dinyatakan dalam tulisan itu cukup menyentuh saya. Dalam salah satu paragraf di artikel itu tertulis bagaimana generasi sekarang adalah generasi galau.
Saya kemudian mencoba berfikir tentang apa yang coba ditawarkan oleh si penulis itu. Dalam salah satu paragraf awalnya, dia juga menyebutkan bahwa menurut seorang psikolog membagi orang kedalam dua jenis, orang yang berlocus eksternal dan orang yang berlocus internal.
Orang dengan locus eksternal adalah orang yang memberi tanggapan atas sebuah fenomena yang dia hadapi dengan cara melihat bahwa penyebab fenomena (masalah) adalah dari fihak luar, bukan dari dirinya, sedangkan orang dengan locus internal akan melihat masalah dengan meninstropeksi dirinya terlebih dahulu sebelum menilai penyebab masalah yang dihadapinya itu berasal dari luar.
Dua hal yang dinyatakan dalam artikel tersebut, generasi galau dan orang berlocus eksternal, menurut saya sangat cocok dengan situasi sekarang ini.
Banyak di antara adek angkatan saya, terutama yang sekarang masih berkuliah, tampak seperti orang yang berlocus eksternal. Mereka melihat suatu masalah karena adanya ketidaksesuaian yang ditimbulkan oleh pihak-pihak di luar dirinya, sehingga ketika mereka menanggapi hal itu mereka cenderung pasif atau malah manja dengan masalah yang dihadapinya tersebut.
Manja yang saya maksud di sini adalah bahwa mereka ingin menunjukkan masalah yang dihadapinya kepada orang lain bukan dengan tujuan mendapatkan solusi atau nasehat, tetapi ingin mendapatkan perhatian. Mereka seakan ingin mendapatkan perhatian dari orang lain bahwa mereka itu sedang mendapatkan masalah. Padahal seharusnya mereka menanggapi apa yang sedang dihadapinya dengan lebih mandiri. Artinya, mereka tidak perlu terlalu frontal mengutarakan masalah yang dihadapinya kepada orang lain. Tetapi seharusnya mereka mencoba terlebih dahulu menyelesaikan masalahnya. Baru kemudian kendala yang masih tersisa dan itu tidak/belum mampu mereka selesaikan diutarakan.
Sebenarnya hal ini hanya perkiraan saya saja.
Akan tetapi, kemudian saya mencoba mendisukusikan hal ini kepada salah seorang teman baik saya yang saya tahu lebih bijak dan berpengalaman.
Menurut dia, apa yang saya pikirkan itu memang sama dengan apa yang dipikirkannya.
Saya lalu mencoba melihat fenomena Facebook atau sosial media lainnya.
Sering kali, para pengguna fb memanfaatkan fb untuk sedikit curhat atau merenungkan atas masalah yang dihadapinya. Akan tetapi, menurut saya, mereka tidak sadar bahwa kebiasaan mereka tersebut secara perlahat juga muncul dalam kehidupan nyata.
Untuk memperjelas pernyataan di atas akan saya coba pilah satu persatu.
Banyak di antara orang-orang yang saya kenal dan memiliki fb cenderung sering curhat dari pada mereka yang tidak aktif di fb.
Memang, kata teman saya yang jebolan komunikasi, kecenderungan untuk terbuka itu semakin besar. Banyak orang yang cenderung berani membuka diri untuk mengungkapkan permasalahannya ke ranah umum. Dengan menuliskan masalah mereka ke status fb, secara tidak langsung mereka ingin orang lain untuk mengetahui apa yang sedang dia rasakan.
Kecenderungan yang terjadi ketika memasang status, ini juga terjadi pada diri saya, adalah ingin mendapatkan komentar atau sekedar mendapatkan klik "like" dari orang yang menjadi temannya di dunia maya itu. Pada tahap selanjutnya, si pemasang status akan merasa bahwa eksistensi sebagai seorang yang memiliki problem dihargai atau dipedulii -kata yang kurang tepat- oleh orang lain.
Lambat laun, ketika mereka, para pengguna fb, mendapati masalah dalam kehidupan nyata, mereka pun berharap ada orang yang simpati kepadanya ketika dia bercerita. Buruknya, ketika dia bercerita tentu yang dia ceritakan cenderung menunjukkan locus eksternal, bukan locus internal. Nah, ini kemudian menjadi masalah baru. Karena masalah yang ada tidak terselesaikan, karena sebenarnya masalah itu menjadi pimicu agar dapat menuliskan status yang dengan status berkomentar banyak memberikan sebuah kepuasan tersendiri.
Saya lalu teringat dengan China yang melarang fb hadir di negeri tirai bambu itu. Apakah memang orang China telah sadar bahwa sebenarnya ada sebuah bad habit yang disuntikkan melalui jarum suntik bernama fb?
Entahlah, apakah yang saya katakan ini benar atau tidak. Akan tetapi, ini hanyalah sekedar buah pemikiran tadi sepanjang pulang dari kampus.
Saya tidak bermaksud menjelekkan fb atau media sosial lain, atau bahkan menjelekkan generasi adek angkatan saya, tetapi alangkah baiknya jika kita semua menyadari dan lebih hati-hati.
Sekedar tulisan yang tidak perlu dicamkan terlalu dalam.
*maaf jika kurang berkenan, karena saya pun kecanduan oleh "narkotika" yang ada.